KARENA SENYUMAN SAI
Kulewati gerbang sekolah itu dengan santai menuju kelasku,
kulewati beberapa anak tangga, musola, dan perpustakaan. Tapi entah mengapa
langkahku terhenti di depan toilet. Kulihat seorang laki-laki berdiri di depan
toilet. Lelaki itu memakai jaket berwarna abu-abu, dengan tas hitam yang
digendongnya.
Sesaat
kemudian aku sadar, lelaki itu adalah teman sekelasku, kelas sepuluh satu. Lelaki
itu tersenyum kepadaku, tiba-tiba saja jantungku berdetak dengan kencang,
senyumannya sangat mempesona. Entah berapa lama aku melihat senyuman manis itu.
Ia pun masuk ke dalam toilet sedangkan aku langsung berlari menuju kelasku.
Waktu istirahat tiba, seperti biasanya aku duduk di depan
kelas sambil berbincang –bincang bersama temanku, Rani.
“Sa? Kenapa kamu jadi suka melamun? Lagi ngekhayal tentang
apa coba?.” Kata Rani
“Eh iya, apa? Kamu tadi ngomong apa?.” Kataku
“Tuh kan bener, lagi mikirin apa sih?.” Tanyanya
“ Enggak kok, gak mikir apa-apa.” Jawabku
“ Jangan bohong, kamu pasti lagi mikir sesuatu. Lagi
mikirin seseorang ya? Siapa?.” Tanya Rani
“ Mau tahu aja sih, aku yang melamun juga bukan kamu.”
Jawabku
“Udahlah kasih tau aja, masa iya sih seorang Lisa menyimpan
rahasianya sendiri?.” Katanya
“ Nanti juga kamu tau sendiri.” Kataku
Memang sebenarnya sedari tadi aku terbayang senyuman manis
itu, aku tidak dapat berpikir apa-apa. Yang ada dalam pikiranku hanyalah dia,
lelaki dengan senyuman manis itu.
Senyumnya manis seperti Sai, tokoh dalam Anime Naruto.
“ Ayolah cepat, ungkapkan saja rahasiamu padaku.” Ujar Rani
Baru saja aku akan memberitahu pada Rani, terdengar suara
langkah kaki, suara sepatu seorang perempuan, dan bisa aku tebak itu adalah
guru yang mengajar di kelasku. Akupun segera berlari masuk ke dalam kelas
bersama Rani.
Akhirnya, kegiatan belajar mengajar telah usai. Bagiku hal
ini merupakan sesuatu yang aku senangi, usai belajar rasanya seperti terbebas
dari penjara yang sempit sekali, tak ada ruang sedikitpun.
Jujur saja, bayangan lelaki itu masih menghantui pikiranku,
mungkin ini rasanya suka pada seseorang. Mengganggu konsentrasiku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Keesokan harinya, aku berangkat seperti biasa dengan penuh semangat
aku berangkat ke sekolah untuk belajar, ditambah lagi dengan bertemu lelaki
itu.
“Ayah, cepatlah sedikit mengemudikan motornya, aku takut
terlambat.” Kataku
“ Iya.” Jawab ayahku pelan
Sampailah aku di sekolah, dan aku baru ingat, aku belum
mengerjakan pekerjaan rumahku, yaitu menulis puisi. Aku harus cepat ke kelas
supaya bisa mengerjakan tugas itu. Meskipun begitu, tetap saja tugas yang aku
kerjakan tidak dikumpulkan karena belum selesai. Dan aku sadar perbuatan yang
aku lakukan itu salah.
Bel tanda istirahat berbunyi dengan nyaringnya, rasanya aku
ingin cepat-cepat bergegas ke kantin sekolah karena perutku sudah keroncongan,
tapi semua itu hilang begitu saja ketika lelaki itu lewat dihadapanku dan
tersenyum kearahku.
“ Ran, aku ga jadi deh beli makanannya. Aku mau ke kelas
aja.” Kataku pada Rani
“Loh, kok gitu? Gapapa deh, itu sih terserah kamu aja, tapi
ada syaratnya.” Kata Rani
“Syaratnya apa?” tanyaku
“Sebenarnya, rahasia apa sih yang kamu sembunyikan?
Sekarang kamu kasih tau aku.” Kata Rani
“Jadi begini, aku lagi suka sama seseorang, udah dari
kemarin.” Kataku
“Hah? Suka sama siapa?.” Tanyanya
“Suka sama itu.” Kataku sambil melihat kearah lelaki itu
berada
“Oh, dia? Teman sekelas kita?.” Tanyanya
“Iya.” Jawabku
Aku langsung berlari menuju kelas. Aku duduk di bangku
kelasku hingga akhir pelajaran. Saat itu aku buru-buru pulang karena aku akan
mengerjakan tugas menulis puisi itu. Saat itu aku dijemput ayahku jadi aku
pulang ke rumah lebih awal.
Sampai dirumah langsung kunyalakan komputerku dan aku tik
semua yang ada dalam pikiranku, dan aku simpan dalam folder tugasku. Aku pergi
menuju kamar, kutulis semua perasaanku dalam bentuk puisi untuk lelaki itu, tak
lupa aku menulis namanya di bawah kertas tersebut dan aku letakan dalam kotak
pensilku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Rasa sukaku pada lelaki itu semakin bertambah, ataukah ini
namanya jatuh cinta? Aku baru merasakannya saat ini.
Tiba-tiba
saja Rani bertanya padaku.
“Sa, apakah
benar kamu sedang jatuh cinta? Aku gak nyangka kamu bisa cinta sama orang kayak
dia.” Ujarnya
“Kalau
iya emang kenapa?.” Tanyaku
“Enggak
kok, tenang saja, dia kan orangnya baik.” Katanya
Sepertinya
aku tak mempedulikan hal itu, karena cinta datangnya tanpa disangka dan cinta
datang pada siapa saja.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Kujalani
hari itu seperti biasa, setelah pulang, aku membantu Claudia membuat puisi.
Tanpa aku sadari, Claudia membuka kotak pensilku dan membaca puisi buatanku,
dan ia tahu siapa lelaki itu.
“Sa,
ini kan nama teman SMP aku dulu, kamu jatuh cinta ya sama dia?.” Katanya
“Hah?
Jadi kamu satu sekolah sama dia?.” Tanyaku keheranan
“Iya,
dia teman sekelasku waktu kelas delapan. Kamu suka ya sama dia?.” Katanya
“Kalau
iya emang kenapa?.” Kataku pada Claudia
“Enggak,
unik aja kalau menurut aku.” Kata Claudia
“ Hah?
Terserah kamu sajalah.” Kataku
Tak
kusangka hal kecil bisa menjadi seperti itu. Dan aku berharap rahasia ini tidak
bocor lagi, tapi sepertinya mustahil karena sepandai-pandainya tupai melompat
pastilah ia akan wafat, kalau menurutku.
Aku
tahu, hari ini kegiatan belajar mengajar di sekolahku tidak akan efektif karena
guru -guru di sekolahku akan mengadakan rapat. Hatiku senang sekali, terlebih
saat di kelas aku meminjam handphone lelaki itu. Aku memanfaatkan kesempatan
ini untuk mendapatkan nomor handphonenya. Dan akhirnya aku mendapatkannya.
Tiba-tiba saja Claudia memanggilku dari depan pintu kelas.
“Lisa ! Lisa !.” seru Claudia
“ Iya, ada apa?.” Kataku sambil menghampiri Claudia
“Mau pulang bareng ga? Kalau ga mau nanti aku bilangin
kalau kamu suka sama dia.” Katanya
“Iya, iya. Aku pulang bareng kamu deh.” Kataku
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Sampai di depan rumah aku mencoba mengirim pesan lewat
handphone pada lelaki itu. Ternyata dia membalas pesan singkatku itu, betapa
senangnya hatiku saat itu. Aku sempat berpikir bagaimana jika aku mengungkapkan
perasaanku ini kepadanya. Tapi hatiku berkata tidak, wanita hanya bisa
menunggu, dan aku ingin menceritakan hal ini pada temanku, Sali. Dia adalah
teman curhatku, dia juga menyukai seorang pria, Nandi namanya, anak kelas
sepuluh empat.
“Sali. Aku punya cerita. Awalnya sih aku cuma iseng, aku
ngirim sms ke dia dan ga taunya dia ngebales sms aku.” Kataku dengan spontan
“Wah, enak dong. Aku juga punya cerita kok.” Kata Sali
“Cerita aja ke aku, ga bakal aku bilangin deh.” Kataku
“Jadi gini, aku itu buat puisi buat Nandi, terus aku
kumpulin puisi itu buat tugas. Dan ternyata Bu Susri tau puisi itu buat dia dan
parahnya lagi puisi itu dikasihin ke Nandi sama temen aku. Jadi dia tau kalau
aku suka sama dia.” Katanya dengan sedikit salah tingkah
“Eh, udah dulu ya.
Aku mau tidur. Kapan-kapan kita cerita lagi.” Katanya lagi
“Oki Doki” kataku dengan semangat
Minggu itu adalah minggu paling menegangkan bagiku, minggu
dimana aku melaksanakan ujian akhir semester 1. Sontak aku terkaget karena
hasilnya akan dibagikan ke orang tua. Bagaimana ini, celaka kuadrat. Tapi
untung saja orang tuaku tidak dapat hadir waktu itu.
Usai bagi rapor, pastilah kami sebagai pelajar libur untuk
menenangkan diri sejenak selama dua minggu. Dan selama dua minggu itu, tak
henti-hentinya aku memikirkan dia, panggil saja namanya Sai. “Sai aku jatuh
cinta padamu, sungguh aku mencintaimu apa adanya. Ya Tuhan, bantu aku, rasa ini
sungguh menyiksa batinku.” Ujarku dalam hati. Tapi, akhirnya aku bisa melewati
semua ini, akhirnya aku bisa masuk sekolah.
“ Yeah ! akhirnya masuk sekolah lagi.” Teriakku dalam kamar
Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Sai. Sepertinya rasa
rindu ini sudah tak terbendung lagi, seperti bendungan Situ Gintung yang jebol.
Semenjak itu, hari demi hari kujalani dengan penuh
semangat. Tapi hal itu tiba-tiba saja berhenti ketika semua teman perempuan
yang ada di kelasku tahu rahasiaku yang sebenarnya. Oh tidak, dilema tingkat
dewa. Untung saja mereka tidak membocorkan hal ini pada dia. Sampai akhirnya
aku menceritakan semua kejadian ini pada Sali.
“Sal, temen cewek di kelasku udah pada tau kalau aku suka
sama dia, gimana dong?.” Kataku dengan paniknya
“Kok bisa, tapi itu sih mending daripada aku. Yang aku udah
tersebar ke beberapa kelas dan beberapa guru. Dan dia juga udah tau.” Kata Sali
“Semoga saja rahasia ini cukup tersebar sampai sini saja,
jangan sampai ada kebocoran lagi.” Kataku
“Semoga saja bocor deh. Hahaha. . . peace !.” kata Sali
“udah deh, itu kan rahasia Illahi.” Kataku
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Hari demi hari yang kujalani kulewati dengan rasa takut,
takut dia akan tau perasaanku dan menjauhiku, takut rahasia itu semakin
menyebar dan membuatku seperti terkekang dalam sebuah sarang burung.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan ke bulan sepertinya
rahasia itu belum tersebar kembali, atau mungkin mereka sudah tau, hanya aku
saja yang tidak tahu, entahlah. Hingga suatu ketika aku belajar seperti biasa,
katanya sih kegiatan belajar mengajar hari ini tidak efektif. Dan aku juga
heran sebab banyak temanku yang pindah untuk duduk di belakang sehingga membuat
beberapa bangku yang letaknya hampir di depan kosong, kebetulan saat itu bangku
di sebelah temanku kosong.
“Bangku itu kosong?.” Tanyaku
“Iya, kamu duduk disini aja.” Tawarnya
Tanpa pikir panjang aku langsung pindah tempat ke bangku
itu, kebetulan sebelah bangku itu kosong. Tapi tiba-tiba saja semua itu menjadi
mimpi burukku.
“Kamu, yang dibelakang. Pindah ke depan.” Kata Ibu guru
Dan saat itu aku sadar, bahwa orang yang pindah ke depan
itu duduk di sebelahku. Ketika aku melihat ke sebelahku itu, orang itu adalah
dia. Lelaki itu, lelaki yang sudah membuat aku jatuh cinta padanya. Memang
sikapku biasa saja, tapi hatiku, pikiranku, kacau seperti terkena gelombang
tsunami yang besar dan meluluhlantahkan semuanya. Inilah rasanya jatuh cinta,
dan mulai saat ini aku akan berusaha untuk menghilangkan rasa ini, rasa yang
selalu menyiksa batinku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar