WELCOME TO MY BLOG, HARAP TETAP WOLES =)

KARYA GUE


 KARENA SENYUMAN SAI

Kulewati gerbang sekolah itu dengan santai menuju kelasku, kulewati beberapa anak tangga, musola, dan perpustakaan. Tapi entah mengapa langkahku terhenti di depan toilet. Kulihat seorang laki-laki berdiri di depan toilet. Lelaki itu memakai jaket berwarna abu-abu, dengan tas hitam yang digendongnya.
                Sesaat kemudian aku sadar, lelaki itu adalah teman sekelasku, kelas sepuluh satu. Lelaki itu tersenyum kepadaku, tiba-tiba saja jantungku berdetak dengan kencang, senyumannya sangat mempesona. Entah berapa lama aku melihat senyuman manis itu. Ia pun masuk ke dalam toilet sedangkan aku langsung berlari menuju kelasku.
Waktu istirahat tiba, seperti biasanya aku duduk di depan kelas sambil berbincang –bincang bersama temanku, Rani.
“Sa? Kenapa kamu jadi suka melamun? Lagi ngekhayal tentang apa coba?.” Kata Rani
“Eh iya, apa? Kamu tadi ngomong apa?.” Kataku
“Tuh kan bener, lagi mikirin apa sih?.” Tanyanya
“ Enggak kok, gak mikir apa-apa.” Jawabku
“ Jangan bohong, kamu pasti lagi mikir sesuatu. Lagi mikirin seseorang ya? Siapa?.” Tanya Rani
“ Mau tahu aja sih, aku yang melamun juga bukan kamu.” Jawabku
“Udahlah kasih tau aja, masa iya sih seorang Lisa menyimpan rahasianya sendiri?.” Katanya
“ Nanti juga kamu tau sendiri.” Kataku
Memang sebenarnya sedari tadi aku terbayang senyuman manis itu, aku tidak dapat berpikir apa-apa. Yang ada dalam pikiranku hanyalah dia, lelaki  dengan senyuman manis itu. Senyumnya manis seperti Sai, tokoh dalam Anime Naruto.
“ Ayolah cepat, ungkapkan saja rahasiamu padaku.” Ujar Rani
Baru saja aku akan memberitahu pada Rani, terdengar suara langkah kaki, suara sepatu seorang perempuan, dan bisa aku tebak itu adalah guru yang mengajar di kelasku. Akupun segera berlari masuk ke dalam kelas bersama Rani.
Akhirnya, kegiatan belajar mengajar telah usai. Bagiku hal ini merupakan sesuatu yang aku senangi, usai belajar rasanya seperti terbebas dari penjara yang sempit sekali, tak ada ruang sedikitpun.
Jujur saja, bayangan lelaki itu masih menghantui pikiranku, mungkin ini rasanya suka pada seseorang. Mengganggu konsentrasiku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Keesokan harinya, aku berangkat seperti biasa dengan penuh semangat aku berangkat ke sekolah untuk belajar, ditambah lagi dengan bertemu lelaki itu.
“Ayah, cepatlah sedikit mengemudikan motornya, aku takut terlambat.” Kataku
“ Iya.” Jawab ayahku pelan
Sampailah aku di sekolah, dan aku baru ingat, aku belum mengerjakan pekerjaan rumahku, yaitu menulis puisi. Aku harus cepat ke kelas supaya bisa mengerjakan tugas itu. Meskipun begitu, tetap saja tugas yang aku kerjakan tidak dikumpulkan karena belum selesai. Dan aku sadar perbuatan yang aku lakukan itu salah.
Bel tanda istirahat berbunyi dengan nyaringnya, rasanya aku ingin cepat-cepat bergegas ke kantin sekolah karena perutku sudah keroncongan, tapi semua itu hilang begitu saja ketika lelaki itu lewat dihadapanku dan tersenyum kearahku.
“ Ran, aku ga jadi deh beli makanannya. Aku mau ke kelas aja.” Kataku pada Rani
“Loh, kok gitu? Gapapa deh, itu sih terserah kamu aja, tapi ada syaratnya.” Kata Rani
“Syaratnya apa?” tanyaku
“Sebenarnya, rahasia apa sih yang kamu sembunyikan? Sekarang kamu kasih tau aku.” Kata Rani
“Jadi begini, aku lagi suka sama seseorang, udah dari kemarin.” Kataku
“Hah? Suka sama siapa?.” Tanyanya
“Suka sama itu.” Kataku sambil melihat kearah lelaki itu berada
“Oh, dia? Teman sekelas kita?.” Tanyanya
“Iya.” Jawabku
Aku langsung berlari menuju kelas. Aku duduk di bangku kelasku hingga akhir pelajaran. Saat itu aku buru-buru pulang karena aku akan mengerjakan tugas menulis puisi itu. Saat itu aku dijemput ayahku jadi aku pulang ke rumah lebih awal.
Sampai dirumah langsung kunyalakan komputerku dan aku tik semua yang ada dalam pikiranku, dan aku simpan dalam folder tugasku. Aku pergi menuju kamar, kutulis semua perasaanku dalam bentuk puisi untuk lelaki itu, tak lupa aku menulis namanya di bawah kertas tersebut dan aku letakan dalam kotak pensilku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Rasa sukaku pada lelaki itu semakin bertambah, ataukah ini namanya jatuh cinta? Aku baru merasakannya saat ini.
                Tiba-tiba saja Rani bertanya padaku.
                “Sa, apakah benar kamu sedang jatuh cinta? Aku gak nyangka kamu bisa cinta sama orang kayak dia.” Ujarnya
                “Kalau iya emang kenapa?.” Tanyaku
                “Enggak kok, tenang saja, dia kan orangnya baik.” Katanya
                Sepertinya aku tak mempedulikan hal itu, karena cinta datangnya tanpa disangka dan cinta datang pada siapa saja.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
                Kujalani hari itu seperti biasa, setelah pulang, aku membantu Claudia membuat puisi. Tanpa aku sadari, Claudia membuka kotak pensilku dan membaca puisi buatanku, dan ia tahu siapa lelaki itu.
                “Sa, ini kan nama teman SMP aku dulu, kamu jatuh cinta ya sama dia?.” Katanya
                “Hah? Jadi kamu satu sekolah sama dia?.” Tanyaku keheranan
                “Iya, dia teman sekelasku waktu kelas delapan. Kamu suka ya sama dia?.” Katanya
                “Kalau iya emang kenapa?.” Kataku pada Claudia
                “Enggak, unik aja kalau menurut aku.” Kata Claudia
                “ Hah? Terserah kamu sajalah.” Kataku
                Tak kusangka hal kecil bisa menjadi seperti itu. Dan aku berharap rahasia ini tidak bocor lagi, tapi sepertinya mustahil karena sepandai-pandainya tupai melompat pastilah ia akan wafat, kalau menurutku.
                Aku tahu, hari ini kegiatan belajar mengajar di sekolahku tidak akan efektif karena guru -guru di sekolahku akan mengadakan rapat. Hatiku senang sekali, terlebih saat di kelas aku meminjam handphone lelaki itu. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan nomor handphonenya. Dan akhirnya aku mendapatkannya. Tiba-tiba saja Claudia memanggilku dari depan pintu kelas.
“Lisa ! Lisa !.” seru Claudia
“ Iya, ada apa?.” Kataku sambil menghampiri Claudia
“Mau pulang bareng ga? Kalau ga mau nanti aku bilangin kalau kamu suka sama dia.” Katanya
“Iya, iya. Aku pulang bareng kamu deh.” Kataku
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Sampai di depan rumah aku mencoba mengirim pesan lewat handphone pada lelaki itu. Ternyata dia membalas pesan singkatku itu, betapa senangnya hatiku saat itu. Aku sempat berpikir bagaimana jika aku mengungkapkan perasaanku ini kepadanya. Tapi hatiku berkata tidak, wanita hanya bisa menunggu, dan aku ingin menceritakan hal ini pada temanku, Sali. Dia adalah teman curhatku, dia juga menyukai seorang pria, Nandi namanya, anak kelas sepuluh empat.
“Sali. Aku punya cerita. Awalnya sih aku cuma iseng, aku ngirim sms ke dia dan ga taunya dia ngebales sms aku.” Kataku dengan spontan
“Wah, enak dong. Aku juga punya cerita kok.” Kata Sali
“Cerita aja ke aku, ga bakal aku bilangin deh.” Kataku
“Jadi gini, aku itu buat puisi buat Nandi, terus aku kumpulin puisi itu buat tugas. Dan ternyata Bu Susri tau puisi itu buat dia dan parahnya lagi puisi itu dikasihin ke Nandi sama temen aku. Jadi dia tau kalau aku suka sama dia.” Katanya dengan sedikit salah tingkah
 “Eh, udah dulu ya. Aku mau tidur. Kapan-kapan kita cerita lagi.” Katanya lagi
“Oki Doki” kataku dengan semangat
Minggu itu adalah minggu paling menegangkan bagiku, minggu dimana aku melaksanakan ujian akhir semester 1. Sontak aku terkaget karena hasilnya akan dibagikan ke orang tua. Bagaimana ini, celaka kuadrat. Tapi untung saja orang tuaku tidak dapat hadir waktu itu.
Usai bagi rapor, pastilah kami sebagai pelajar libur untuk menenangkan diri sejenak selama dua minggu. Dan selama dua minggu itu, tak henti-hentinya aku memikirkan dia, panggil saja namanya Sai. “Sai aku jatuh cinta padamu, sungguh aku mencintaimu apa adanya. Ya Tuhan, bantu aku, rasa ini sungguh menyiksa batinku.” Ujarku dalam hati. Tapi, akhirnya aku bisa melewati semua ini, akhirnya aku bisa masuk sekolah.
“ Yeah ! akhirnya masuk sekolah lagi.” Teriakku dalam kamar
Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Sai. Sepertinya rasa rindu ini sudah tak terbendung lagi, seperti bendungan Situ Gintung yang jebol.
Semenjak itu, hari demi hari kujalani dengan penuh semangat. Tapi hal itu tiba-tiba saja berhenti ketika semua teman perempuan yang ada di kelasku tahu rahasiaku yang sebenarnya. Oh tidak, dilema tingkat dewa. Untung saja mereka tidak membocorkan hal ini pada dia. Sampai akhirnya aku menceritakan semua kejadian ini pada Sali.
“Sal, temen cewek di kelasku udah pada tau kalau aku suka sama dia, gimana dong?.” Kataku dengan paniknya
“Kok bisa, tapi itu sih mending daripada aku. Yang aku udah tersebar ke beberapa kelas dan beberapa guru. Dan dia juga udah tau.” Kata Sali
“Semoga saja rahasia ini cukup tersebar sampai sini saja, jangan sampai ada kebocoran lagi.” Kataku
“Semoga saja bocor deh. Hahaha. . . peace !.” kata Sali
“udah deh, itu kan rahasia Illahi.” Kataku
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Hari demi hari yang kujalani kulewati dengan rasa takut, takut dia akan tau perasaanku dan menjauhiku, takut rahasia itu semakin menyebar dan membuatku seperti terkekang dalam sebuah sarang burung.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan ke bulan sepertinya rahasia itu belum tersebar kembali, atau mungkin mereka sudah tau, hanya aku saja yang tidak tahu, entahlah. Hingga suatu ketika aku belajar seperti biasa, katanya sih kegiatan belajar mengajar hari ini tidak efektif. Dan aku juga heran sebab banyak temanku yang pindah untuk duduk di belakang sehingga membuat beberapa bangku yang letaknya hampir di depan kosong, kebetulan saat itu bangku di sebelah temanku kosong.
“Bangku itu kosong?.” Tanyaku
“Iya, kamu duduk disini aja.” Tawarnya
Tanpa pikir panjang aku langsung pindah tempat ke bangku itu, kebetulan sebelah bangku itu kosong. Tapi tiba-tiba saja semua itu menjadi mimpi burukku.
“Kamu, yang dibelakang. Pindah ke depan.” Kata Ibu guru
Dan saat itu aku sadar, bahwa orang yang pindah ke depan itu duduk di sebelahku. Ketika aku melihat ke sebelahku itu, orang itu adalah dia. Lelaki itu, lelaki yang sudah membuat aku jatuh cinta padanya. Memang sikapku biasa saja, tapi hatiku, pikiranku, kacau seperti terkena gelombang tsunami yang besar dan meluluhlantahkan semuanya. Inilah rasanya jatuh cinta, dan mulai saat ini aku akan berusaha untuk menghilangkan rasa ini, rasa yang selalu menyiksa batinku.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar